Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014 Tentang BPKP

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait kedudukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden.

"Fungsi monitoring dan evaluasi yang dilakukan UKP4, akan dilakukan oleh Badan pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang per hari ini Perpres-nya sudah keluar, langsung di bawah Presiden. Jadi Presiden langsung memiliki ribuan auditor yang bisa membantu Presiden melakukan pengawasan keuangan," kata Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto di Istana Negara di Jakarta, Rabu.

Andi mengatakan selain BPKP, Presiden juga telah menunjuk Kepala Staf Kepresidenan yang nantinya akan memberikan informasi strategis dan juga membangun komunikasi politik dengan lembaga dan juga perseorangan.

"Tugasnya memberikan info strategis pada Presiden, membantu Presiden merancang komunikasi politik antarlembaga dan ke publik. Membantu Presiden mengidentifikasi isu strategis. Jadi nanti kedepannya akan ada pejabat eselon 2 yang bergerak di bidang komunikasi, politik,. karena berkaitan dengan informasi strategis, akan ada semacam direktur informasi strategis, didalamnya juga akan membantu Presiden melihat pencapaian hasil pembangunan kedepan," katanya.


Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014 Tentang BPKP dapat didownload pada link di bawah ini :


Rohmad Adi Siaman

Karena banyaknya traffic, maka link dropbox tidak dapat diakses. Silahkan gunakan link mirror di bawah ini untuk mengunduh Perpres 192 tahun 2014 :

Rohmad Adi Siaman

HSI 5.42 : Memperbanyak Al-Hasanah dan Menghilangkan As-Sayyi'ah Bagian 2

Photo Credit : salampathokan.blogspot.com
Di antara cara memperbanyak Al-Hasanah dan menghilangkan As-Sayyi'ah adalah:
 
Yang ketiga, memanfaat kenikmatan Alloh yang telah diberikan kepada kita semaksimal mungkin. Seperti kenikmatan ilmu agama, kesehatan, waktu luang, harta benda, anggota badan yang lengkap dan sehat, jabatan, kenikmatan teknologi, kecerdasan, kenikmatan berbicara dan lain-lain. Menggunakan kenikmatan tersebut di jalan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan niat yang benar, yaitu untuk mencari pahala Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam bersabda yang artinya,
Dua nikmat yang banyak manusia yang rugi di dalamnya, kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari).
Dalam hadits yang lain Beliau Sholallohu 'Alaihi Wasallam mengatakan yang artinya,
Sesungguhnya orang-orang kaya, mereka adalah orang yang sedikit Hasanahnya pada hari kiamat. Kecuali orang yang Alloh berikan kekayaan kemudian bershoaqoh kepada yang ada di kanannya, kirinya, depan dan belakangnya dan beramal dengan kekayaan tersebut, amalan yang baik (HR. Bukhari dan Muslim).
Yang keempat adalah dengan memperbaiki amalan supaya diterima di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Karena amalan bisa menjadi hasanah bagi seseorang bila diterima di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan syarat diterimanya amalan ada dua yaitu ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam.
 
Yang kelima adalah bertaubat dari dosa yang diiringi dengan iman dan amal sholeh. Karena barang siapa yang melakukan yang demikian itu, maka dosanya akan diganti dengan hasanah. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan bahwasanya orang yang menyekutukan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, membunuh jiwa tanpa hak, berzina, maka mereka akan mendapatkan azab yang pedih di hari kiamat. Kecuali apabila dia bertaubat, beriman dan mengerjakan amal sholeh, maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan mengganti dosa-dosa mereka menjadi sebuah kebaikan (Surat Al-Furqon : 68-70).
 
Yang keenam memperbanyak istighfar setiap melakukan dosa atau kurang bersyukur atas nikmat, atau kurang dalam melakukan kewajiban atau lalai dalam mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam bersabda,

 طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اِسْتِغْفَارًاكَثِيْرًا
Tuba bagi orang yang menemukan di dalam kitabnya istighfar yang banyak (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Majah).
Tuba ada yang mengatakan maknanya adalah surga, ada juga yang mengatakan maknanya adalah nama pohon di surga.
 
Yang ketujuh, tidak melakukan amalan yang mengurangi pahalanya. Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam bersabda yang artinya,
Aku mengetahui ada sebagian umatku yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa hasanah sebesar gunung-gunung thihamah. Maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan hasanah tersebut seperti debu yang beterbangan. Maka salah seorang sahabat bertanya kepada Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam tentang sifat mereka. Maka Rosulullh Sholallohu 'Alaihi Wasallam mengabarkan bahwasanya mereka adalah saudara-saudara kita. Sholat malam sebagaimana kita sholat malam, akan tetapi mereka apabila dalam keadaan sendiri dengan sesuatu yang diharamkan, mereka pun melanggarnya (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Majah).

Anda dapat mendownload audio kajian di atas dengan mengklik link di bawah ini :


Rohmad Adi Siaman


Sumber : Audio Halaqoh Silsilah Islamiyah bimbingan Ustadz Abdullah Roy

BIAS 11 : Adab-Adab Memberi Salam 2

Alhamdulillaah washshalaatu wassalaamu 'alaa Rasuulillah. Ikhwan dan akhwat, Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh.
 
Kita masuk pada halaqoh yang ke-11 dari Baabul Adab. Hadits dari 'Ali bin Abi Thalib رضي اللّه عنه, beliau berkata:
 
ٍقال رسول الله صلّى اللّه عليه وسلّم : "يُجْزِئُ عَنْ اَلْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ, وَيُجْزِئُ عَنْ اَلْجَمَاعَةِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ ".
Cukuplah jika ada sekelompok orang atau sebuah jama'ah jika melewati jama'ah yang lain, maka cukup salah seorang dari jama'ah yang lewat tersebut satu orang memberi salam sudah cukup. Dan sebaliknya, demikian juga jama'ah yang disalami maka cukup satu orang bagi mereka untuk membalas salam tersebut (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan AlBaihaqi).
Para ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah سبحانه وتعالى, hadits ini sanadnya lemah karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang bernama Sa'id bin Khalid Al-Khuza'i AlMadani. Dan dia adalah perawi yang dha'if.
Al-Imam Al-Bukhari menyatakan fiihi nazhar. Demikian juga Abu Hatim dan Abu Zur'ah mengatakan dha'iiful hadits (haditsnya lemah). Kemudian juga Daruquthni mengatakan laysa bilqowiy (orangnya tidaklah kuat). Oleh karenanya, secara sanadnya hadits ini adalah lemah. Akan tetapi Syaikh Albani رحمه اللّه menyebutkan syawahid yang menguatkan hadits ini (yang dimaksud dengan syawahid adalah hadits-hadits yang maknanya sama tetapi diriwayatkan dari shahabat-shahabat yang lain). Dan syawahid tersebut seluruhnya sanadnya juga lemah.
 
Oleh karenanya Syaikh Albani mengatakan:
 
لعل الحديث بهذه الطروق يتوقف فيسير حسنا
Mungkin dengan banyaknya jalan-jalan yang lain daripada hadits ini maka hadits ini naik derajatnya menjadi hadits yang hasan.
Oleh karenanya hadits ini juga dihasankan oleh Syaikh Al-bassam dalam kitabnya Tauhidul Ahkam. Intinya, hadits ini wallaahu a'lam, ada yang mendha'ifkan, ada yang menghasankan.
Hadits ini menjelaskan bahwasanya diantara adab yang berkaitan dengan memberi salam, jika ada sekelompok jama'ah yang melewati jama'ah yang lain maka cukup yang memberi salam satu karena hukumnya adalah fardhu kifayah.
 
اذا قام به البعض سقط عن الباقين
Kalau seorang sudah melakukannya, maka yang lain tidak perlu lagi wajib untuk mengucapkan salam.
Demikian juga dalam hal menjawab salam, jika ada seorang datang kemudian memberi salam kepada jama'ah: "Assalaamu'alaykum!". Maka jama'ah tersebut tidak wajib seluruhnya untuk menjawab, tetapi satupun sudah cukup. Akan tetapi kata para ulama mengatakan seandainya mereka menjawab seluruhnya maka ini lebih baik, lebih afdhal.
Demikian juga seandainya mereka jama'ah ini seluruhnya memberi salam dengan suara ramai-ramai "Assalaamu'alaykum!". Maka ini juga lebih afdhal. Karena hadits أَفْشُوا السَّلامَ, Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلّم mengatakan: Tebarkanlah salam.
 
Hadits ini umum, yang oleh karenanya siapa saja berhak untuk memberikan salam. Oleh karena nya jika jama'ah ramai-ramai memberi salam atau jama'ah ramai-ramai menjawab salam maka ini lebih afdhal, akan tetapi tidak wajib. Yang wajib cukup 1 yang memberi salam dan wajib 1 menjawab.
 
Ini diantara adab salam yang diajarkan oleh Nabi صلّى اللّه عليه وسلّم dalam hadits ini. Kemudian ada adab yang lain yang mungkin kita perlu sampaikan juga.
 
Dalam Alqur'an Allah سبحانه وتعالى berfirman:
 
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
Jika kalian diberi salam dengan suatu salam maka jawablah dengan salam yang lebih baik atau yang semisalnya (AnNisaa 86)
Ini penting ya ikhwan dan akhawat, kalau kita bertemu dengan seorang saudara kita kemudian dia memberi salam: "Assalaamu'alaykum warahmatullaah wabarakaatuh ", maka hendaknya kita menjawab dengan jawaban yang sempurna, kita mengatakan "Wa'alaykumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh".
 
Kalau dia mengatakan "Assalaamu'alaykum " kita bisa -minimal-(red) jawab "Assalaamu'alaykum" -"Wa'alaykumussalam"-(red) atau kita tambah kita mengatakan "Assalaamu'alaykum warahmatullah" -"Wa'alaykumussalam warahmatullaahi"-(red). Jadi kita berusaha menjawab salam sebagaimana yang dia sampaikan atau lebih baik daripada apa yang dia sampaikan.
 
Demikian juga dalam secara lafal, demikian juga dalam hal misalnya saudara kita datang memberi salam kepada kita dengan wajah tersenyum, dengan memandang kita maka kita berusaha memandangnya dan kita juga berusaha senyum dengan dia karena sebagian orang mungkin karena ada keangkuhan dalam dirinya jika ada yang memberi salam kepada dia maka dia jawab dengan tanpa senyum. Atau dia menjawab tanpa melihat orang yang memberi salam kepada dia. Ini adalah keangkuhan, yaa ikhwan. Allah mengatakan:
 
فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
Jawablah dengan lebih baik atau yang sama.
Kalau dia senyum, kita senyum. Kalau dia senyumnya berseri, kita berseri-seri. Harusnya demikian, ini adab yang diajarkan oleh Islam.
Oleh karenanya, seorang berusaha menebarkan salam, menjalankan sunnah Nabi صلّى اللّه عليه وسلّم. Dalam hadits Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلّم menyatakan:
 
لا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنَكُمْ
Kalian tidak akan masuk surga sampai beriman, dan kalian tidak akan beriman kecuali sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang suatu amalan yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Maka tebarkanlah salam diantara kalian.
Maka jangan malas kita untuk memberi salam. Ketemu saudara kita, kita beri salam, kita kirim salam kepada saudara kita. Betapa keindahan yang masuk ke dalam hati seseorang tatkala dikatakan si fulan memberikan salam kepada engkau, kemudian kita mengatakan kirim salam balik kepada dia. Ini semua dalam meningkatkan ukhuwah, maka jangan angkuh untuk memberi salam dan jangan angkuh juga untuk menjawab salam.
 
Wabillaahit taufiq, assalaamu'alaykum warahmatullaah wabarakaatuh.
Anda dapat mendownload audio kajian di atas dengan mengklik link di bawah ini :


Rohmad Adi Siaman


Sumber :
  • Whats App Grup BIAS Group N01-57
  • Transkrip oleh Tim Materi Bimbingan Islam

HSI 5.41 : Memperbanyak Al-Hasanah dan Menghilangkan As-Sayyi'ah Bagian 1

Seorang yang beriman kepada hari akhir dan beriman bahwasanya kelak akan dihisab maka hendaklah dia memohon rahmat dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kemudian mengambil sebab supaya memiliki Al-Hasanah sebanyak mungkin dan menghilangkan dosa sebisa mungkin. Di antara caranya yang pertama adalah menjaga tauhid yang merupakan Hasanah atau kebaikan yang paling besar. Dan merupakan pondasi bagi Hasanah yang lain. Dan merupakan sebab diampuninya dosa seseorang.
 
Yang kedua, mencari amalan yang paling afdhol. Yang apabila dilakukan maka dia akan mendapatkan Hasanah yang banyak. Yang demikian karena kita sangat butuh dengan Hasanah yang banyak, sementara waktu untuk mendapatkannya adalah sangat terbatas.
 
Amalan yang paling afdhol setelah Rukun Islam dan kewajiban-kewajiban agama yang lain, adalah tiga amalan yaitu menuntut ilmu agama, jihad fii sabilillah dan dzikrullah yang dilakukan dengan khusyu' di sebagian besar waktunya.
  • Amalan yang wajib lebih besar dan lebih afdhol pahalanya dari pada amalan sunnah.
  • Amalan yang wajib 'ain yaitu yang wajib atas semuanya lebih afdhol dari pada amalan yang wajib kifayah yang apabila dilakukan oleh sebagian maka gugur atas yang lain.
  • Kewajiban yang berkaitan dengan hak Alloh lebih afdhol dari pada kewajiban yang berkaitan dengan hak mahluk.
  • Amalan yang lebih afdhol adalah amalan yang dilakukan dengan lebih ikhlas dan lebih mengikuti sunnah Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam.
  • Amalan sedikit yang mudah dikerjakan tanpa memberatkan diri dan dilakukan secara terus-menerus, lebih afdhol dari pada amalan yang banyak tapi terputus.
Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam bersabda yang artinya,
Yang paling dicintai Alloh Subhanahu Wa Ta'ala adalah yang paling dilakukan terus-menerus meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Terkadang sebuah amalan afdhol bagi sebagian, namun belum tentu afdhol bagi yang lain.
  • Amalan yang manfaatnya sampai kepada orang lain lebih afdhol dari pada amalan yang manfaatnya hanya bagi diri-sendiri. Contohnya seperti shodaqoh dan dakwah fii sabilillah.
Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam bersabda yang artinya,
Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun (HR. Muslim).
  • Amalan yang dikerjakan di waktu yang mulia lebih afdhol. Seperti amalan yang dikerjakan di Bulan Ramadhan dan amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari yang pertama di Bulan Dzulhijjah.
  • Sebagian amalan lebih afdhol dikerjakan di tempat mulia tertentu. Seperti sholat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa.

Anda dapat mendownload audio kajian di atas dengan mengklik link di bawah ini :


Rohmad Adi Siaman


Sumber : Audio Halaqoh Silsilah Islamiyah bimbingan Ustadz Abdullah Roy

HSI 5.40 : Keadilan Allah Ketika Hisab Bagian 2

Di antara keadilan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala ketika hisab,
 
Yang keempat, bahwasanya kebaikan dan kejelekan sekecil apapun yang disembunyikan di dalam hati maupun yang dinampakkan akan didatangkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak ada manusia yang didzolimi karena kebaikan yang terlupakan atau karena kejelekan yang tidak dia lakukan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat Az-Zalzalah : 7-8

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرً۬ا يَرَهُ ۥ (٧) وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬ شَرًّ۬ا يَرَهُ ۥ (٨)  
Maka barang siapa yang mengamalkan kebaikan seberat atom sekalipun dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengamalkan sebuah kejelekan seberat atom sekalipun akan melihatnya.
Yang kelima, seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-An'am : 164

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ۬ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ‌ۚ  
Dan sebuah jiwa tidak akan menanggung dosa jiwa yang lain.
Kecuali apabila seseorang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa orang yang mengikutinya dalam kesesatan orang tersebut. Rosululloh Sholalohu 'Alaihi Wasallam bersabda,

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثَمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا 
Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa orang yang mengikutinya. Tidak berkurang dari dosa mereka sedikitpun (HR. Muslim).
Yang keenam, masing-masing kita akan dipersilahkan melihat sendiri isi kitabnya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Isro' : 13-14

وَنُخۡرِجُ لَهُ ۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ ڪِتَـٰبً۬ا يَلۡقَٮٰهُ مَنشُورًا (١٣) ٱقۡرَأۡ كِتَـٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبً۬ا (١٤) مَّ 
Dan Kami akan keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab dalam keadaan terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu pada hari ini yang menghisab dirimu sendiri.
Yang ketujuh, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan mendatangkan para saksi supaya tidak ada alasan bagi manusia. Didatangkan para Rosul yang akan bersaksi atas umatnya, bahwasanya mereka sudah menyampaikan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat An-Nisa : 41

فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۭ بِشَهِيدٍ۬ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ شَہِيدً۬ا  
Maka bagaimana jika Kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami akan datangkan dirimu sebagai saksi atas mereka.
Malaikat akan menjadi saksi. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat Qof : 21

وَجَآءَتۡ كُلُّ نَفۡسٍ۬ مَّعَهَا سَآٮِٕقٌ۬ وَشَہِيدٌ۬  
Dan akan datang setiap jiwa bersamanya para Malaikat yang menuntun dan Malaikat yang menjadi saksi.
Bahkan anggota badan manusia akan menjadi saksi di hari kiamat. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat Yaasin : 65

ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٲهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيہِمۡ وَتَشۡہَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ 
Pada hari ini akan Kami tutup mulut-mulut mereka dan tangan-tangan mereka akan berbicara dengan Kami. Dan kaki-kaki mereka akan menjadi saksi atas apa yang telah mereka lakukan.

Anda dapat mendownload audio kajian di atas dengan mengklik link di bawah ini :


Rohmad Adi Siaman


Sumber : Audio Halaqoh Silsilah Islamiyah bimbingan Ustadz Abdullah Roy